Sering Jadi Lokasi Perang petasan, Area TPU Pringsewu Selatan Dijaga Polisi
20/02/2026 08:53:47 WIB 42
Pringsewu – Suasana Area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Pringsewu Selatan, Jumat pagi (20/2/2026), tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah personel dari Polres Pringsewu bersama Polsek Pringsewu Kota terlihat berpatroli dan berjaga di sekitar area pemakaman.
Kehadiran aparat ini bukan tanpa alasan. Sehari sebelumnya, lokasi tersebut sempat berubah menjadi arena perang petasan dan kembang api yang melibatkan puluhan remaja. Dentuman keras dan kilatan cahaya sempat memecah suasana malam, bahkan membuat warga sekitar resah.
Momentum Ramadan yang biasanya identik dengan suasana khusyuk justru ternodai oleh aksi saling lempar petasan. Selain berisik, aktivitas itu juga berbahaya. Percikan api dan ledakan berisiko memicu kebakaran maupun melukai para pelaku.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, polisi memilih turun langsung. Mereka menyisir area yang kerap dijadikan titik kumpul, sekaligus berdialog dengan warga sekitar. Imbauan pun disampaikan agar para orang tua lebih mengawasi anak-anaknya, terutama saat malam dan pagi hari pasca sahur.
Kapolsek Pringsewu Kota, AKP Ramon Zamora mewakili Kapolres Pringsewu AKBP M. Yunnus saputra menegaskan bahwa langkah patroli ini merupakan bagian dari upaya preventif guna menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif selama bulan suci.
“Kami ingin Ramadan tetap terasa aman dan nyaman. Jangan sampai hanya karena petasan, malah menimbulkan masalah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya tidak hanya melakukan penjagaan, tetapi juga pendekatan persuasif kepada para remaja yang kedapatan berkumpul di lokasi tersebut.
“Kami mengedepankan langkah humanis. Anak-anak yang kami temui diberikan pembinaan dan diingatkan tentang bahaya petasan, baik dari sisi keselamatan maupun konsekuensi hukumnya. Harapannya, mereka memahami bahwa tindakan tersebut bisa merugikan diri sendiri dan orang lain,” jelasnya.
Menurutnya, perang petasan bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Jika dibiarkan, hal itu berpotensi memicu konflik antar kelompok.
“Awalnya mungkin hanya iseng, tapi kalau sudah saling tantang dan lempar, bisa berkembang menjadi perkelahian. Ini yang kami cegah sejak dini,” tegasnya.
AKP Ramon juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah memetakan sejumlah titik yang rawan dijadikan lokasi berkumpul saat malam hingga menjelang sahur.
“Patroli akan kami tingkatkan, terutama pada jam-jam rawan. Kami juga berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan perangkat kelurahan agar bersama-sama melakukan pengawasan,” katanya.
Ia turut mengimbau para orang tua untuk berperan aktif dalam mengawasi aktivitas anak-anaknya.
“Peran keluarga sangat penting. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua harus memastikan anak-anaknya tidak keluar rumah tanpa tujuan jelas pada malam hari, apalagi membawa petasan,” imbuhnya.
Selain itu, pihak kepolisian juga akan menindak tegas apabila ditemukan penggunaan petasan berdaya ledak tinggi yang membahayakan.
“Jika ada yang kedapatan membawa atau menyalakan petasan berbahaya, tentu akan kami tindak sesuai aturan yang berlaku. Keselamatan masyarakat adalah prioritas,” tandasnya.
Sementara itu, Fikri, salah satu warga, mengaku aksi perang petasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, hampir setiap Ramadan, area itu kerap dijadikan tempat berkumpul para remaja.
“Kalau bulan puasa memang sering, terutama habis sahur. Yang datang bukan cuma anak-anak sini saja, tapi juga dari desa lain, bahkan ada yang dari luar kecamatan,” ujarnya.
Ia mengaku suara ledakan petasan cukup mengganggu, terutama bagi warga lanjut usia dan anak-anak kecil yang sedang beristirahat.
“Sudah sering ditegur, dibilangi baik-baik, tapi namanya anak-anak, kebanyakan masih bandel. Kadang kalau ditegur malah pindah sebentar, nanti balik lagi,” katanya.,”
Fikri pun mengapresiasi langkah cepat kepolisian yang langsung turun tangan setiap kali terjadi keributan.
“Kami berterima kasih polisi cepat merespons. Dengan adanya patroli dan penjagaan seperti ini, paling tidak anak-anak jadi mikir untuk kumpul dan perang petasan lagi,” ucapnya.
Ia berharap ke depan ada solusi bersama agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Mudah-mudahan dengan pengawasan rutin dan dukungan orang tua juga, kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kami cuma ingin lingkungan aman dan nyaman, terutama selama Ramadan,” pungkasnya.